Breaking News
Loading...
Kamis, Februari 20, 2014

Info Post
JAKARTA - Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia  Ismail Yusanto menilai, "spirit" syariat Islam terkandung di dalam Pancasila, tetapi HTI memahami Pancasila hanya sebatas seperangkat gagasan filosofis.

"Pancasila dengan sila-silanya tidak ada yang buruk dan tak salah. Tapi, Pancasila tak mencukupi untuk mengatur masyarakat Indonesia," Ismail dalam diskusi dan bedah buku "Pancasila 1 Juni dan Syariat Islam" di Megawati Institute, Rabu.
 
Karena itu, kata dia, tidak heran, meski semua rezim mengakui Pancasila, tapi sistem yang dipakai bermacam-macam. Di masa Soekarno, Pancasila ditafsirkan sebagai sistem sosialistik, di masa kepemimpinan Soeharto, Pancasila diterapkan dalam sistem kapitalistik.

Namun, lanjut dia, di masa sekarang ada kecenderungan membawa Pancasila pada sistem neoliberal. "Letak masalah bukan di Pancasila, tapi dari sistem di bawahnya. Karena sifatnya hanya gagasan filosofis, Pancasila kemudian digunakan untuk melancarkan paham yang dianut penguasa," katanya.

Pancasila justru harus ditopang oleh perangkat yuridis yang lebih solid. Menurut dia, harus diatur apa yang boleh dan tak boleh dilakukan. Di sinilah Pancasila tidak didudukkan. "Ketika sampai pada tataran yuridis, justru bertentangan dengan Pancasila," katanya.

HTI berpandangan, jika Pancasila hanya dibahas dalam tema filosofis, maka Indonesia akan gagal mencari solusi alternatif.

Juru Bicara Front Pembela Islam (FPI), Habib Muchsin Ahmad Alatas mengatakan, Pancasila adalah karya yang sangat besar dan diciptakan orang yang berpengetahuan luas, sehingga masih relevan sampai sekarang.

"Islam dan nasionalis selaras dalam Pancasila. Namun, saya berharap Pancasila tidak disakralkan. Kami mendukung Pancasila, tapi menolak sakralisasi Pancasila. Pancasila tak boleh menjadi kitab suci karena hanya buatan manusia," ujarnya.

FPI juga berpendapat, tak ada salahnya menegakkan syariat Islam di Indonesia selama sesuai konstitusi. Yang menjadi permasalahan, kata Muchsin, Pancasila selalu ditafsirkan salah oleh penguasa.

Ketua Umum Baitul Muslimin Indonesia yang juga penulis buku, Hamka Haq menegaskan, buku yang ditulisnya ingin menguak teka-teki di balik perumusan Pancasila oleh Presiden Pertama Indonesia, Soekarno.

"Saya ingin menunjukkan bahwa tak benar jika Soekarno tidak menghargai Islam. Dia justru memasukkan ’spirit’ Islam dalam Pancasila," kata Hamka.

Sila yang paling jelas mengusung "spirit" Islam adalah sila pertama Pancasila yang berbunyi Ketuhanan Yang Maha Esa. Pancasila, kata dia, justru diciptakan untuk mendirikan negara kebangsaan dan dibangun atas dasar kesamaan bangsa, bukan kesamaan agama atau etnis.

"Dari pemikiran itu, Soekarno menghendaki ’spirit’ Islam dalam Pancasila, tanpa mencantumkan simbol Islam," kata Ketua Bidang Pendidikan, Keagamaan dan Kebudayaan DPP PDIP itu.

Hingga saat ini, "spirit" Islam juga masih banyak diadopsi dalam aturan perundang-undangan, seperti halnya UU Perkawinan, UU Peradilan Agama, peraturan tentang syariah dan muamalah di bidang ekonomi ataupun aturan dalam penanggulangan pidana dan hak asasi manusia. 

_____

LIKE and SHARE

.......... BACA SELANJUTNYA