Breaking News
Loading...
Selasa, April 15, 2014

Info Post
 

Ternyata kecurangan PDIP dan tim sukses capres Jokowi tidak hanya saat pemungutan suara, di Pileg tanggal 9 April 2014 kemarin, tapi berlanjut dan tak tanggung-tanggung kampanye hitam Jokowi masuk ranah pendidikan. Seperti sedang hangat-hangatnya diberitakan di TV, bahwa disalah satu soal Ujian Nasional (UN) yang hari ini (15/4/2014) masih berlangsung. Di soal UN itu dengan jelas mencantumkan nama Jokowi dengan lengkap bografinya. Yang menjadi pertanyaan, mengapa itu bias terjadi? Mengapa tidak mengangkat biografi Presiden SBY, atau biografi presiden Pertama Presiden Soekarno atau tokoh pendidikan? Ini aneh.

Jika ini terjadi tanpa pengawasan dari pihak Kementerian Pendidikan, bisa jadi  ada kerjasama atau kongkalikong antara Kementerian Pendidikan dan tim sukses Jokowi atau mungkin Kementerian Pendidikan ini kerjanya hanya menerima laporan beres saja, Asal Bapak Senang (ABS) ?. Sebelumnya, ada kasus di lembar buku pelajaran ada gambar artis bintang Porno. Dimana kerja diknas, kok permasalahan seperti itu bisa terjadi?

Sungguh benar-benar Hebat Propaganda PDIP dan tim sukses pencapresan Jokowi ini. Bermainnya tidak saja dengan para tokoh-tokoh dalam negeri, konglomerat, pengusaha, ketua parpol dan sebagainya tapi juga bermain dengan orang Luar Negeri. 


Sebelum pencoblosan Pileg 9 April kemarin pun, tim sukses Jokowi bekerjasama dengan operator seluler TELKOMSEL menyebarkan sms ajakan untuk mencoblos PDI P, agar perolehan suara tinggi dan Jokowi bisa maju sebagai capres. 


Kabar terbaru, Jokowi temui Diplomat Amerika Serikat dan Vatikan di rumah pengusaha. Ada apakah gerangan?

JAKARTA - Usai bertemu dengan mantan Perdana Menteri Malaysia Mahatir Mohamad, calon presiden dari PDI Perjuangan Joko Widodo (Jokowi) mengadakan pertemuan tertutup di rumah bernomor G73 di Jalan Sircon, Permata Hijau, Jakarta Selatan. Ia datang bersama sejumlah elit PDIP termasuk Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri.

Menurut informasi yang dihimpun, rumah tersebut adalah milik pengusaha Jacob Soetojo yang sedang menggelar acara keluarga.

"Ini rumah Jacob Soetojo. Ada acara keluarga dan tertutup," kata seorang penjaga rumah saat dikonfirmasi, Senin (14/4) malam.

Meski begitu, berdasarkan pantauan JPNN di lapangan, sebagian besar tamu yang hadir datang menggunakan mobil dengan plat korps diplomatik negara asing. Di antaranya dua mobil berplat CD 12 milik kedutaan besar Amerika Serikat, dua mobil berplat CD 18 (Myanmar), sebuah mobil berplat CD 42 (Meksiko) dan satu mobil berplat CD 15 (Tahta Suci Vatikan).

Plt Kepala Biro Daerah dan Hubungan Luar Negeri Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Heru Budi Hartono yang ikut bersama rombongan Jokowi mengatakan, acara kali ini adalah acara ramah tamah dengan Duta Besar Amerika Serikat yang baru, Robert O Blake. Sejumlah diplomat dan duta besar negara tetangga juga turut hadir ke tempat ini.

"Lawatan biasa, para diplomat ada, dubes ada, kenalan, ngobrol," kata Heru di lokasi.

Heru juga menerangkan, kedatangan Jokowi adalah sebagai Gubernur DKI Jakarta. "Pak Jokowi sebagai Gubernur dan Bu Mega sebagai undangan saja," terangnya. (dil/jpnn)

Hanya itukah? Masyarakat, rakyat Indonesia umumnya, tentu bertanya-tanya ada apa dan ada kesepakatan apa antara mereka? Wajar masyarakat bertanya karena ini terjadi disaat Indonesia akan mengadakan Pemilihan Presiden di pertengahan tahun ini. Masyarakat tentunya gak mau kecolongan lagi ketika pemimpin Negara bekerjasama dengan luar negeri dan merugikan Negara sendiri, seperti asset Negara yang di jual, kekayaan SDA dijual, kebijakan pemerintah di dekte pihak luar negeri.

Jangan sampai kita “membeli kucing dalam karung”, diluar berbunyi bagus tapi ternyata tidak seperti yang diharakan malah merugikan rakyat Indonesia nantinya.


Waspada ! Hati-hati jangan-jangan asset Negara Indonesia di perjual belikan lagi, seperti jaman pemerintahan presiden Megawati. Masyarakat digiring untuk memilih Jokowi sebagai Capres, dengan iming-iming kesejahteraan, tapi sebenarnya Negara keropos karena asset Negara di jual ke pihak asing. Apakah kita mau mengalami nasib yang sama seperti dahulu? 

Mari berpikir cerdas !


Ketidak jujuran PDIP dan timses Jokowi bisa kita lihat dari bukti-bukti dan fakta di lapangan, mulai dari penggelembungan suara di pemilu legislative 9 April kemarin, kampanye hotam sebelum pencoblosan yang menggandeng operator seluler TELKOMSEL (ajakan untuk memilih PDIP), kampanye hitam melalui soal Ujian Nasional dan sekaran membuat kesepakatan-kesepakatan dengan pihak asing, terlebih lagi dengan Amerika Serikat dan Vatikan (sumber agama katolik). 


Mari berpikir cerdas !


 

Baca selanjutnya : Bukti-Bukti Kecurangan PDIP di Pileg 2014

---

_____

LIKE and SHARE

.......... BACA SELANJUTNYA