Breaking News
Loading...
Kamis, November 06, 2014

Info Post
Pengumuman Nama Menteri Kabinet Kerja
Ia duduk lesehan di trotoar sambil menghisap sebatang rokok

Jakarta - Menjelang malam, hari Minggu tanggal 26 Oktober tahun 2014 kalender Masehi, disaksikan malaikat Rokib dan Atid, Presiden Joko Widodo mengumumkan nama-nama pembantunya yang bertajuk Kabinet Kerja. Salah satu nama yang didapuk menjadi menteri di kabinetnya adalah Susi Pudjiastuti. Pengusaha perempuan dari Pangandaran, Jawa Barat, ini ditunjuk sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan.


Semuanya baik-baik saja sampai ketika–setelah pengumuman di halaman belakang Istana Merdeka–sang menteri duduk lesehan di trotoar sembari menghisap sebatang sigaret di hadapan awak media, yang tidak lama kemudian menyiarkannya ke seluruh pelosok negeri. Sontak nama Susi Pudjiastuti mumbul tinggi sekali. 

Media-media sosial pun tidak mau kalah riuh. Tengok saja di teras media sosial kita. Masing-masing menjajakan argumen yang berpotensi mengajak pengangguran–orang yang tidak bekerja sama sekali, sedang mencari kerja, bekerja kurang dari dua hari selama seminggu, atau seseorang yang sedang berusaha mendapatkan pekerjaan–atau orang-orang yang memang kurang kerjaan seperti saya mendegil mempersoalkan tragedi di halaman belakang istana, sembari menambahkan bumbu-bumbu penyedap.


Jagat daring gonjang-ganjing. Tidak sedikit yang mencerca sang menteri, mulai dari kisah percintaan, tato, rambut, sampai rokok. Bermodal sekali klik tetikus membuat tidak sedikit orang merasa yang mereka lakukan sudah cukup berkontribusi bagi perbaikan moral manusia dalam peradaban bangsa Indonesia.

Biarkan saja pencaci tetap mengembik. Begitulah cara mereka berkontribusi bagi negaranya. Karena mungkin sudah naluri manusia untuk lebih melihat sisi gelap orang lain, apalagi orang itu berseberangan dengan ideologi yang diperjuangkannya.

Para orang tua dan guru cemas karena pasca dilantiknya Susi Pudjiastuti–yang selengekan dan hanya lulusan SMP–mereka harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk mengajarkan budi pekerti pada anak-anak dan murid-muridnya. Padahal mestinya tidak ada musabab itu pun kita harus tetap mengajarkannya. [Baca: Inilah Yang Dilakukan Anies Baswedan untuk Bentuk Karakter Siswa SD dan SMP]

Beruntung negeri ini tidak hanya berisi manusia pencela. Masih banyak yang bisa mengambil kebestarian dari sosok sang mantan bakul ikan. Ketika saya menggemari Superman Is Dead pun, tidak lantas saya mengukir tato dan meminum whiskey.

Ah, mari kita akhiri debat kusir yang tidak ada gunanya ini. Seiring menuanya usia, republik ini harus belajar arti kedewasaan. Kita tidak mesti lagi keki hanya karena lulusan SMP terpilih menjadi menteri. Kita tidak mesti lagi mengumpat karena dia bukan dari golongan kita. Hidup, yang hanya sekali ini, terlalu berharga untuk diisi dengan menorehkan sejarah yang "berdarah-darah". Cukup sudah pada Pilpres kemarin, tidak lagi setelahnya. [sumber]

_____

LIKE and SHARE

.......... BACA SELANJUTNYA