Breaking News
Loading...
Kamis, April 24, 2014

Info Post

Kompas kian gencar menggulir stigma negatif terhadap mantan Jenderal Kopasus, Prabowo Subianto. Media utama jaringan Katolik yang berafiliasi dengan cukong (konglomerat hitam) ini, secara perlahan sukses mencitrakan Prabowo sebagai penjahat pelanggaran HAM yang bengis dan menakutkan.


Apalagi jelang pemilihan presiden (Pilpres), kebencian terhadap Ketua Pembina Partai Gerindra itu dirasakan kian sporadis. Dan bagi anda pembaca setia Kompas online, fakta atas kampanye hitam tersebut terlihat mencolok dan sangat memprihatinkan.


Mengapa Kompas membenci Prabowo...?

Prabowo adalah sosok figur mantan militer yang berkarakter dan memiliki cara berpikir yang revolusioner. Pandangan-pandangannya tentang realitas ketidakadilan ekonomi sejalan dengan aspirasi kaum muda dan masyarakat arus bawah.

Selain itu, Prabowo memiliki kemandirian secara keuangan dan tampil sebagai sosok pemimpin partai yang agresif, konsisten melontarkan perlawanan terhadap perilaku cukong (konglomerat hitam). Secara blak-blakan Prabowo menegaskan, "setiap tahun lebih dari seribu triliun uang rakyat telah dirampok..."

Ihwal perampokkan uang rakyat, Prabowo tidak asal bicara tanpa bukti. Namun ia menyajikan berbagai temuan data berupa fakta yang tak dapat dibantah oleh siapa pun. Dengan cepat suara nurani Prabowo menuai reaksi positif dari berbagai kalangan.

Bayangkan setiap tahun uang rakyat menguap begitu saja. Dan komplotan perampok tidak lain adalah cukong. Rakyat luas menyebutnya sebagai "kongomerat hitam". Yakni para bandit perbankkan, koruptor BLBI, manipulator pajak, calo APBN/APBD, importir nakal, pengusaha illegal logging, bandar dollar hingga bandar judi dan narkoba. Praktek ilagal itu kini populer dengan julukan: CUKONG !

Suara Prabowo sejalan dengan pendapat kritis pakar ekonomi DR. Rizal Ramli. Yakni menyimpulkan bahwa, semua asbab kejahatan itu telah menimbulkan dampak "kemiskinan 80 persen di pihak rakyat pribumi." Di mana para cukong makin berkuasa melalui penumpukkan kekayaan dengan cara-cara yang tidak adil dan meninggalkan derita bagi kehidupan rakyat. Ironinya, fakta kesenjangan itu tak pernah diungkap oleh Kompas secara jujur dan serius.

Bagi rakyat banyak, perilaku cukong merupakan bukti dari gagalnya negara dalam menegakkan keadilan. Dan kegagalan negara dimaksut tidak lepas dari peran bobroknya kepemimpinan nasional. Yang secara kentara lebih berpihak pada keserakahan cukong dengan mengabaikan hak-hak kehidupan rakyat banyak.

Perilaku pemimpinan nasional yang sepenuhnya mengabdi pada kepentingan cukong dimulai pada masa kekuasaan Megawati melalui serangkaian kebijakan culas dalam skandal penjualan aset-aset negara serta pemutihan kasus BLBI yang bernilai ratusan triliun. Kemudian praktek serupa berlanjut hampir sepuluh tahun di era kepemimpinan SBY, dengan apa yang disebut sebagai "naga menerkam garuda".

Kini menghadapi Pilpres, cukong-cukong kembali mengkonsolidasikan kepentingan mereka dengan menyiapkan Jokowi sebagai boneka berlabel presiden untuk memimpin negeri ini lima tahun ke depan.

Bagaimana dengan peran Kompas...?

Kompas selalu terdepan memandu opini melalui serangkain berita untuk mendongkrak pencitraan Jokowi dan Ahok. Pada figur Jokowi dikesankan sebagai Capres yang ideal, bersih, jujur dan mewakili aspirasi rakyat. Sementara Ahok dipersiapkan untuk memimpin DKI Jakarta yang merupakan jantung strategis negara.

Kedua figur itu nyaris tidak diberi ruang berupa kritikan publik dalam struktur dan isi berita kompas. Kedua boneka sokongan cukong itu tampil mulus dalam aneka polesan isu rekayasa pencitraan di semua sudut halaman Kompas dan mitra jaringan persnya.

Berbeda dengan figur-figur partai lainnya, Kompas menempatkan mereka sebagai sosok politisi busuk, korup, penipu dan berbagai stigma hitam lainnya. Apalagi Prabowo, mendapatkan penghujatan tanpa rasa ampun melalui modus jurnalisme kepiting, dengan doktrin: "Gulir beritanya, hancurkan citranya melalui kolom komentar".

Cara Kompas tersebut semakin efektif menempatkan Prabowo sebagai musuh bersama di ruang publik. Dan celakanya, para komentar pembaca di kolom berita kompas online, disenyalir adalah para wartawan kompas dan relawan dari ratusan LSM/Yayasan yang bernaung di bawah Kompas Gramedia Group itu sendiri melalui penggunaan akun siluman. Itu fakta !

Aneh, media yang mengusung moto: "Amanat Hati Nurani Rakyat", justru tanpa nurani memfasilitasi komunitas haters di ruang publik sebagai mesin operasi politik terselubung demi melanggengkan kepentingan para cukong untuk menguasai negeri ini. (Posted: As)


_____

LIKE and SHARE

.......... BACA SELANJUTNYA