Breaking News
Loading...
Rabu, Juni 25, 2014

Info Post
Dalam Debat Ketiga Capres, Tak Bisa Dibantah, Prabowo Ungguli Jokowi
Jakarta - Tak bisa dibantah bahwa Prabowo Subianto lebih menguasai materi debat ketiga capres, Minggu (22/6/2014) malam, yang mengambil tema "Politik Internasional dan Ketahanan Nasional". Tema ini dikuasai dengan baik Prabowo karena berkaitan erat dengan praksisnya di dunia pertahanan dan keamanan.

Latar belakang Prabowo di dunia militer, dengan pengalaman praksis yang panjang, membuat Jokowi kedodoran dalam debat capres Minggu malam itu. “Prabowo unggul karena background dari pertahanan dan keamanan yang lama digelutinya. Ini kan 'makanannya' Prabowo ," kata Heri Budianto, seorang pengamat politik.
Sementara, capres nomor urut dua, Joko Widodo, menurut Heri, nampak kurang menguasai tema debat dan dalam menjawab beberapa pertanyan, Jokowi "lari" dari konteks yang dimaksud.
Kelemahan Jokowi mencuat begitu ditanya Prabowo tentang konflik di Laut Cina Selatan, dimana Jokowi menjawab Indonesia tidak punya kepentingan berarti di laut yang strategis itu.
Para analis menuturkan pertanyaan Prabowo mengenai konflik Laut Tiongkok Selatan itu membuat posisi Jokowi tersudut. Hal ini terjadi karena jawaban yang diberikan Jokowi cenderung normatif dan kurang spesifik.
Meski hal tersebut, dapat dimaklumi karena Jokowi tidak berlatar belakang militer seperti Prabowo sehingga tidak memahami secara detil. Tampak sekali Jokowi seperti tidak menguasai arti penting Laut Tiongkok Selatan bagi Indonesia. “Jokowi terlihat tak memahami masalah Laut Cina Selatan,” kata Heri Budianto.
Dalam konteks pertanyaan penjualan Indosat yang pernah dilakukan pada masa pemerintahan Presiden kelima RI Megawati Soekarnoputri, Jokowi juga tidak memberikan jawaban akurat.
Dari debat capres semalam, isu masalah pelepasan aset negara kepada pihak asing yang ditujukan kepada Jokowi itu, tidak lepas dari keputusan Megawati yang menjual Indosat kepada Singapore Technologies Telemedia (STT). Jokowi tampak keteteran dalam menjawab pertanyaan Prabowo soal ini.
Masalah satelit menjadi sangat strategis dalam ketahanan nasional. Masalahnya, waktu pemerintahan dipimpin Megawati, istana menjual Indosat yang sangat strategis dengan dua posisi geostasioner di atas wilayah udara.
Seperti yang disampaikan Ketua Dewan Pertimbangan DPP Partai Golkar Akbar Tandjung, ada kepentingan transaksional di balik penjualan Indosat dan bukan karena ada krisis, karena penjualan Indosat terjadi pada 2001. Sedangkan krisis di Indonesia terjadi pada 1998.
Harus diakui, seperti diungkapkan pengamat politik UIN Jakarta Nanang Tahqiq MA, bagaimanapun, gelaran debat capres yang dilangsungkan Minggu malam kemarin mempertontonkan adu argumentasi yang tidak seimbang, di mana Prabowo tampil menguasai masalah, sementara Jokowi terlihat keteter dan kalah. [berbagai sumber]

_____

LIKE and SHARE

.......... BACA SELANJUTNYA