Breaking News
Loading...
Rabu, Juni 25, 2014

Info Post

Prof Dr Siti Musdah Mulia, MA, salah satu feminis muslim terkemuka di Asia, menerima penghargaan Yap Thiam Hien 2008. Dosen Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah kelahiran Bone, Sulawesi Selatan, 3 Maret 1958, itu dinilai sebagai sosok perempuan yang “mau dan berani bersuara”, yang menjadikan Islam sebagai komunitas yang teduh, dialogis, dan inklusif.

Pada 1999, Musdah diberi tanggung jawab menjadi kepala Balai Penelitian Agama Jakarta. Sebagai peneliti dan dosen, ia juga aktif sebagai trainer (instruktur) diberbagai pelatihan, khususnya dalam isu demokrasi, HAM, perempuan, dan civil society. Ia tercatat sebagai perempuan pertama yang meraih doktor dalam bidang pemikiran politik Islam di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta (1997). Disertasinya, Negara Islam: Pemikiran Husain Haikal, diterbitkan oleh Paramadina tahun 2000. Ia melakukan penelitian bagi disertasinya di Kairo, Mesir.
Ia juga tercatat sebagai perempuan pertama yang dikukuhkan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) sebagai profesor riset bidang Lektur Keagamaan di Departemen Agama (1999). Dalam pengukuhannya, ia menyampaikan pidato Potret Perempuan dalam Lektur Agama (Rekonstruksi Pemikiran Islam Menuju Masyarakat Egaliter dan Demokrasi).
Selain pendidikan formal, Musdah juga menjalani pendidikan non-formal. Diantaranya, kursus singkat mengenai Islam dan civil society di Universitas Melbourne, Australia (1998), kursus singkat pendidikan HAM di Universitas Chulalongkorn, Thailand (2000), kursus singkat advokasi penegakan HAM dan demokrasi (Internasional Visitor Program) di Amerika Serikat (2000), kursus singkat Managemen Pendidikan dan Kepemimpinan di Universitas George Mason, Virginia, Amerika Serikat (2001), kursus singkat Pelatih HAM di Universitas Lund, Swedia (2001), serta kursus singkat Managemen Pendidikan dan Kepemimpinan Perempuan di Bangladesh Institute of Administration and Management (BIAM), Dhaka, Bangladesh (2000).
Siti Musdah Mulia merupakan perempuan yang sangat aktif menyuarakan kesetaraan gender. Akibat kelantangannya, dia kerap ditegur petinggi di Departemen Agama, dikecam rekannya sesama dosen di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, dan beberapa tokoh masyarakat “menasehati” supaya dia tidak terlalu lantang karena masih muda dan kariernya masih panjang. Bahkan akhirnya Musdah diberhentikan dari posisi di Departemen Agama. Dikecam dosen-dosen di UIN Syarif Hidayatullah. Diteror dan diberi berbagai cap, semua itu karena pemikirannya. Termasuk penolakannya kepada Undang-Undang Pornografi. by badaiselatan.com

_____

LIKE and SHARE

.......... BACA SELANJUTNYA