Breaking News
Loading...
Kamis, Oktober 16, 2014

Info Post
Inilah jadinya kalau seorang pemimpin gak punya kemampuan berbahasa Asing, selalu bawa seorang penerjemah bahasa. Terlebih ini adalah seorang pemimpin sebuah Negara. Hadeuuhh…
Bagaimana jika menghadiri rapat kenegaraan antar Negara-negara. Berabe ,,, dro..
Menyita waktu, karena harus nunggu penerjemah selesai menerjemahkan. Biaya perjalanan nambah, dengan modal sdapat menguasai berbagai bahasa asing dipastikan seseorang apalagi seorang pemimpin akan mudah bergaul dengan dunia internasional.
Wawasannya seorang pemimpin haruslah luas, dapat mengerti ketika lawatan keluar negeri tidak menyertakan banyak yang ikut atau seorang penerjemah bahasa sekalipun.
Dan memenuhi bibit-bobot-bebet.

Saya gak kebayang ketika ada pertemuan pemimpin Negara-negara dan setiap kepala Negara tak menyertakan pendamping dalam pertemuannya. Khusus hanya kepala Negara saja. Trus ada seorang kepala Negara tak bisa berbahsa asing? Apakah pertemuannya diwakilkan? Atau tetap ngotot, bawa penerjemah, hadeuuuhhh ribetnya…
Mungkin ada kepala Negara yg iseng dan bergumam,” udah aja bapak, bapak tidak cocok jadi kepala Negara, bapak itu cocoknya jadi ketua RW saja…. “ hehehe…
Malunya aku punya dipimpin oleh seseorang yang begitu..

Ini gan beritanya...........
######
Chief Excecutive Officer (CEO) Facebook Mark Zuckerberg (30), Senin (13/10/2014) pagi, bertemu dengan Presiden terpilih Joko "Jokowi" Widodo di Balai Kota DKI Jakarta.
Dalam sebuah foto yang beredar di Facebook dan twitter, Selasa (14/10/2014), pertemuan formal itu ada Jokowi, Mark, dan Abdee Slank.
Di antara Abdee, Jokowi dan pendiri Facebookitu, ada seorang wanita muda.
Si wanita itu mempopulerkan diri dengan nama Rara Rizal. Usianya 23 tahun. Dan ternyata si Rara adalah lajang kelahiran Makassar. Tumbuh dan besar di Jl Sultan Hasanuddin, Pangkajene, Pangkep, bersama kakek (alm Zainal Abidin) dan neneknya (Hajjah Sitti Mariani Sanusi).
"Sejak kelas lima SD dia sudah selalu juara. Dia jago mengaji. Juara TPA sama anak SMA. Dan jadi guru mengaji di Masjid Agung," kata Alfian Muis, paman Rara kepada Tribun.
Anggota Fraksi Golkar DPRD Pangkep, Muhammad Yusran Lologau (22), mengenal Rara sebagai kakak yang 'supel", "periang", dan ramah. "Enaklah, gaul," kata Yusran yang kini jadi anggota DPRD termuda di Sulsel, kemarin.
Guru Rara di SMPN 2 Pangkajene, Muhammad Fitri Mubarak, mengenang Rara sebagai sosok gadis cerdas. "Bahasa Inggrisnya selalu 10, dia pernah dapat beasiswa sekolah di Ankara, Turki, tapi sejak SMA sudah sekolah di Bandung. Saya tyang antar dia kesana dulu, kala nggak salah tahun 2005," kata Fitri.
Dan 10 tahun kemudian, Rara sudah sudah menjadi profesional muda. Penerjemah, atau freelancer interpreterpapan atas Indonesia.
Rara hanya nama panggilan. Di SDN 28 Tumampua, Pangkep, guru-gurunya mengenal Rara, dengan Nurbaniara Mutmainnah Rizal.
Ayahnya, Dr Ir Achmad Rizal, M App Sc, PdD adalah Kepala Pusat Kajian Pengelolaan Pesisir dan Kelautan Terpadu di Universitas Tadulako, Palu. Seperti ayahnya, ibu Rara, Dr  Sri Ningsih, adalah juga seorang doktor ilmu pertanian dari Institut Pertanian Bogor (IPB). "Rara itu anak tengah, Ryan,  kakaknya kuliah psikologi di Bandung, adiknya kuliah di Palu," kata dokter Sri Zainal, tente yang ikut membesarkan Rara di Pangkep.
Dalam situs jasa penerjamah profesional ternama dunia,http://www.translatorscafe.com, Rara mendefinisikan dirinya dengan kalimat sederhana, "I am an interpreter and translator by day, musician and foodie by night."
Di translatorscafe.com, Rara bergabung dengan 5,914 agen penerjemah dari seluruh dunia bersama 215,597 registered users.
Karena pekerjaannya, alumnus SMA Pribadi Advanced School Kota Bandung ini, sudah keliling dunia.
Selengkapnya, silakan baca melalui Tribun Timur edisi cetak, Rabu (15/10/2014). 

_____

LIKE and SHARE

.......... BACA SELANJUTNYA